Jumat, 11 Juli 2014

Sejarah Gedung Sate Bandung

Sejarah Gedung Sate

Sejarah Gedung Sate
Bagi masyarakat Jawa Barat, keberadaan Gedung Sate yang saat ini menjadi kantor pusat Pemerintah Provinsi Jawa Barat memberikan kebanggaan tersendiri. Bangunan ini selain bernilai sejarah tinggi juga kehadirannya tidak saja dikenal masyarakat pribumi namun secara nasional, gedung yang dibangun sejak tanggal 27 Juli 1920 ini merupakan aset sejarah, bahkan dunia Internasional pun mengenalnya, mengingat gedung ini dibangun pada masa kolonial Belanda. Tidak heran bila gedung yang terletak di Kota Bandung ini menjadi ciri dan simbol Jawa Barat. Tusuk sate yang tertancap di puncak bangunan ini semakin menguatkan ciri khas gedung yang kini menjadi pusat Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Dengan bentuk bangunan persegi panjang, membentang dari Selatan ke Utara, Gedung Sate bersumbu lurus ke tengah-tengah Gunung Tangkuban Perahu. Semula, gedung indah ini disebut Gedung Hebe diserap dari singkatan BG atau Gounverments Bedrijven oleh penduduk masa itu, namun kemudian lebih dikenal dengan nama Gedung Sate karena di puncak menara gedung terdapat tusuk sate dengan enam buah ornamen berbentuk jambu air.

Enam ornamen itu konon melambangkan modal awal pembangunan pusat pemerintahan sebesar 6 juta gulden. Dengan modal awal itu, dapat terselesaikan bangunan utama Gedung Sate, Kantor Pusat Pos Telegraf dan Telepon (PTT), Laboratorium dan, Museum Geologi serta Dinar Tenaga Air dan Listrik.

Namun akibat resesi ekonomi dunia pada tahun 1930 yang juga melanda pemerintah Belanda di Indonesia, bangunan pusat pemerintahan tersebut tidak dapat terselesaikan seluruhnya.

Meski demikian, berdirinya Gedung Sate yang anggun, megah dan monumental, sudah menjadi suatu fenomena tersendiri dari cerita sejarah Jawa Barat. Kini, setelah 88 tahun lamanya, Gedung Sate masih kokoh berdiri dan menjadi saksi perjalanan Pemerintah Jawa Barat menuju terciptanya masyarakat yang Gemah Ripah Repeh Rapih Kerta Raharja.

Untuk mengetahui lebih detail tentang isi buku ini, dapat dibaca di Perpustakaan Kementerian Pekerjaan Umum, Gedung Pusdata Lantai 1. 
 
 
Sumber.  http://pustaka.pu.go.id

Sejarah Cimahi


Sejarah Kota Cimahi

Cimahi berasal dari kata bahasa Sunda  “Cai Mahi”, yang artinya “Sumber Air yang cukup”. Dikenal pada saat Jendral Daendels membuat jalan Anyer-Panarukan pada tahun 1811, dengan membuat pos penjagaan di sekitar Alun-Alun Cimahi sekarang. Pada tahun 1874 - 1893, dibangun jalan kereta api dari Bandung ke Cianjur, dimana dibuat juga Stasiun Cimahi.
Cimahi kemudian menjadi kota ‘Militer’ atau kota ‘Tentara’ atau kota ‘Hijau’ (hijau ini mengacu ke seragam tentara yang berwarna hijau, red.)  sejak di buat menjadi Pusat Pendidikan Militer pada tahun 1886. Pada saat itu juga dibangun fasilitas-fasilitas pendukung lainnya seperti Rumah Sakit Dustira juga Rumah Tahanan Militer.

Image result for sejarah cimahi

Pada perkembangannya kemudian, pada tahun 1935, Cimahi ditetapkan sebagai Kecamatan. Setelah Indonesia merdeka, Cimahi menjadi bagian dari Kabupaten Bandung Utara. Pada tahun 1962, Cimahi kemudian dibuat menjadi Kawedanaan Cimahi yang meliputi kecamatan-kecamatan: Cimahi, Batujajar, Padalarang dan Cipatat. Pada tahun 1975, Cimahi kemudian berubah menjadi Kota Administratif (yang pertama di Jawa Barat), dan akhirnya tanggal  21 Juni 2001 ditetapkan sebagai Kota Cimahi.
Cimahi berada di sebelah barat Kota Bandung, dan menjadi kota penyangga bagi Ibu kota Jawa Barat tersebut. Jumlah penduduk  612,168 jiwa (per Mei 2011), dengan luas wilayah 48,42 km persegi.

Sumber. http://cimahi.info/sejarah-kota-cimahi

Sejarah Tugu Lawet Kebumen

TUGU LAWET sang ICON YANG BERWIBAWA dari KEBUMEN

Tugu Lawet di tengah tengah kota
Sejarah kota kebumen tidak lepas dari pengaruh peradaban agama Islam di Jawa Tengah. Ada beberapa versi yang hampir sama tentang terjadinya kota Kebumen ini. Pengaruh Islam pada jaman Kerajaan Mataram membawa awal mula terbentuknya kota kebumen. Secara letak kekuasaan Kerajaan Mataran, Kebumen masih  berada di wilayah Kademangan Karanglo (Manca Negara Kulon).
Berdasarkan sejarah rakyat kata Kebumen berasal dari Kebumian yang berarti tempat tinggal Kyai Bumi setelah dijadikan tempat pelarian Pangeran Bumidirja atau Pangeran Mangkubumi dari Mataram pada tanggal 26 Juni 1677 saat dipimpin oleh Sunan mangkurat I. Saat itu Kebumen masih bernama Panjer, yang dulu merupakan tempat tonggak perlawanan terhadap penyerbuan pasukan Mataram pada zaman Sultan Agung ke daerah pertahanan benteng Belanda di Batavia (Jakarta).
Ki Bagus Bodronolo yang lahir di Panjer pada waktu itu membantu prajurit Sultan agung untuk mengumpulkan bahan pangan dari rakyat dengan cara membeli sehingga bahan pangan prajurit tercukupi, kemudian ia diangkat sebagai senopati. Ketika Pangeran Bumidirja kembali ke Panjer, ia mendapat hadiah berupa tanah di sebelah utara sungai Lukulo pada tahun 1670. Kemudian dibangunlah beberapa padepokan-padepokan yang kemudian dikenal kebagai padepokan Ki Bumian dan sekarang bernama Kebumen. Tempat Padepokan pertama kali itulah yang sekarang Menjadi Alun-alun Kebumen dan sekitarnya yang menjadi pusat Kota Kebumen.






NILAI HISTORIS




tugu lawet dan masjid agung kebumen
Tugu Muda dan Tugu Pahlawan dibangun dengan tetesan darah dan air mata yang tak pernah berhenti menetes demi tegaknya kedaulatan negara Indonesia. Di bawah Tugu Muda dan Tugu Pahlawan bersemayam ribuan jiwa, ribuan ruh yang rela berkalang tanah demi sebuah kata : Merdeka !!!
Sedangkan Tugu Lawet (Kupu Tarung) dibangun sebagai sebuah “icon” dari komoditas non migas yang menjadi andalan Kabupaten Kebumen yaitu “Sarang Burung Lawet” yang sudah terkenal sejak abad ke 17.
Konon sarang burung lawet inilah satu-satunya obat yang bisa menyembuhkan sakit yang diderita oleh istri raja Mataram waktu itu.
Yang menjadi pertanyaan kita semua adalah : Kenapa Tugu Lawet tidak bisa se-terkenal Tugu Muda di Semarang atau Tugu Pahlawan di Surabaya?
Masalahnya barangkali bukan sekedar nilai historis yang menaunginya. Menurut saya, kita semua (warga Kebumen) bisa membuat Tugu Lawet terkenal dimana-mana. Kita bisa membuat Tugu Lawet lebih tinggi nilainya, bukan sekedar icon pariwisata yang rajin mengangkangi perempatan kota, tetapi kita bisa membuatnya banyak bicara meskipun sebenarnya ia diam seribu kata. Bagaimana caranya? Tentu saja dengan meningkatkan etos kerja kita sebagai “Wong Kebumen” dimanapun kita berada.
Semoga di masa mendatang Tugu Lawet bukan sekedar icon saja. Tetapi keberadaannya bisa mengalahkan kebesaran “genteng sokka” yang sampai sekarang masih dikenal dimana-mana.
Tugu Lawet itu bukan berarti simbol keberhalaan ,lebih dari makna simbolik itu sendiri , setidaknya ada alasan dan uraian tentang adanya Tugu lawet berdiri di kota Kebumen.mengapa bisa bernama Tugu Lawet,

Monumen tugu kemit

               MONUMEN KEMIT DAN SANG PERANCANG


Di wilayah antara Karanganyar dan Gombong berdiri sebuah monumen perjuangan mengenang peristiwa pertempuran Kemit. Di wilayah Kemit pernah terjadi pertempuran sengit antara pasukan republik, tentara pelajar dan pasukan Belanda.
Pertempuran terjadi sebagai akibat pelanggaran Belanda terhadap hasil Perundingan Linggarjati. Perundingan Linggarjati atau kadang juga disebut Perundingan Linggajati adalah suatu perundingan antara Indonesia dan Belanda di Linggarjati, Jawa Barat yang menghasilkan persetujuan mengenai status kemerdekaan Indonesia. Hasil perundingan ini ditandatangani di Istana Merdeka Jakarta pada 15 November 1946 dan diratifikasi kedua negara pada 25 Maret 1947[1] .
Pelaksanaan hasil perundingan ini tidak berjalan mulus. Pada tanggal 20 Juli 1947, Gubernur Jendral H.J. van Mook akhirnya menyatakan bahwa Belanda tidak terikat lagi dengan perjanjian ini, dan pada tanggal 21 Juli 1947, meletuslah Agresi Militer Belanda I. Hal ini merupakan akibat dari perbedaan penafsiran antara Indonesia dan Belanda [2].
Latar belakang Agresi Militer Belanda I adalah, Pada tanggal 15 Juli 1947, van Mook mengeluarkan ultimatum supaya RI menarik mundur pasukan sejauh 10 km. dari garis demarkasi. Tentu pimpinan RI menolak permintaan Belanda ini. Tujuan utama agresi Belanda adalah merebut daerah-daerah perkebunan yang kaya dan daerah yang memiliki sumber daya alam, terutama minyak. Namun sebagai kedok untuk dunia internasional, Belanda menamakan agresi militer ini sebagai Aksi Polisionil, dan menyatakan tindakan ini sebagai urusan dalam negeri. Letnan Gubernur Jenderal Belanda, Dr. H.J. van Mook menyampaikan pidato radio di mana dia menyatakan, bahwa Belanda tidak lagi terikat dengan Persetujuan Linggajati. Pada saat itu jumlah tentara Belanda telah mencapai lebih dari 100.000 orang, dengan persenjataan yang modern, termasuk persenjataan berat yang dihibahkan oleh tentara Inggris dan tentara Australia[3] .
Fokus serangan tentara Belanda di tiga tempat, yaitu Sumatera Timur, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Sumatera Timur, sasaran mereka adalah daerah perkebunan tembakau, di Jawa Tengah mereka menguasai seluruh pantai utara, dan di Jawa Timur, sasaran utamanya adalah wilayah di mana terdapat perkebunan tebu dan pabrik-pabrik gula[4] .
Ekspansi Belanda saat Agresi I mencapai Gombong dan menetapkan Kali Kemit sebagai Garis Demarkasi/Garis Status Quo[5]. Agresi Belanda I ditengahi melalui Perjanjian Renville pada tanggal 17 Januari 1948 namun beberapa bulan kemudian Belanda melakukan pelanggaran hingga pada 18 Desember 1948 Belanda melakukan Agrresi Militer 2 di Yogyakarta dan wilayah sekitarnya termasuk Gombong.
Pada hari Minggu pagi – pagi benar pukul 05.30 Wib tanggal 19 Desember 1948 Komandan Kompi III Batalyon III Brigade X (Batalyon Sroehardoyo) yang berkedudukan di Nampudadi dan Kepala Staf Kompi III Serma Koedoes mendengar ledakan Granat dari arah Kemit. Suara yang sama terdengar pula oleh Kapten Soemrahadi pimpinan sementara Kompi III karena Komandan Kompi III Kapten Radjiman sedang ke Purworejo untuk menengok keluarganya yang sakit. Ledakan granat itu tidak diragukan lagi setelah adanya laporan dari Kopral Soeroyo anggota regu Combat pimpinan Serma Soekidi yang bertugas di dalam kota Gombong, bahwa ledakan tersebut merupakan isyarat bahwa Belanda melaksanakan rencananya “door stoot naar Yogyakarta“. Hal itu menjadi lebih meyakinkan dengan adanya siaran RRI Yogyakarta secara berulang – ulang[6].
Ledakan tersebut memakan korban tujuh Polisi Keamanan. Ketujuh Polisi Keamanan yang menjalankan tugas istimewa menjaga garis Demarkasi/Status Quo Kemit ini gugur pada tanggal 19 Desember 1948 pada pukul 05.00 Wib saat Belanda memulai aksi militernya (Agresi Militer II) dengan terlebih dahulu menghabisi mereka yang pada saat itu menghuni rumah Bapak Prawiro Sumarto, timur pasar Kemit sebagai Pos PK pihak RI. Makam tujuh Pahlawan tersebut sebelumnya terletak di lokasi yang tidak layak (comberan), kemudian atas swadaya masyarakat Kemit, dipindahkan ke pemakaman yang layak di desa Grenggeng diprakarsai oleh Bp. Taufik dan Bp. Dwidjomartono[7].
Peristiwa tersebut diabadikan dengan didirikannya monumen Kemit oleh pemerintahan Kabupaten Kebumen. Siapakah tokoh pembuat monumen Kemit? Mungkin tidak banyak generasi muda yang mengetahuinya. Beliau bernama Tan Giok Twan atau lebih dikenal dengan nama Teguh Twan. Beliau saat ini tinggal di Jalan Pemuda 35 Kebumen. Kisah kehidupan beliau pernah dimuat secara berseri oleh Suara Merdeka[8]
Monumen Kemit
Teguh Twan adalah pria kelahiran 1939. Pekerjaan beliau sehari-hari adalah pelukis dan pemahat. Beliau lulus Akademi Seni Rupa Indonesia tahun 1960.

Pada tahun 1973 beliau mendapatkan tugas dari Bupati Kebumen untuk membuat sebuah monumen perjuangan dan pengerjaan di mulai pada tahun 1974 dan diselesaikan pada tahun 1975. Biaya pengerjaan monumen tersebut diperkirakan sekitar 5-7 juta.

Tugu Lawet
Pada tahun yang sama yaitu 1975, rekan beliau sesama pemahat bernama Suko mengerjakan Tugu Lawet. Ada sedikit keluh kesah dan kerisauan beliau mengenai pewarnaan Tugu Lawet saat penulis berkunjung dan mewawancarainya. Beliau berkata, “Jika hendak mencat Tugu Lawet seharusnya menggunakan warna yang monumental, jangan beraneka warna seperti itu. Apalagi pencari burung waletnya menggunakan celana yang di warna-warni”. Sebuah kritik yang selayaknya dipertimbangkan oleh instansi terkait saat melakukan perawatan dan pengecatan ulang sebuah benda monumental agar tidak mengurangi nilai filosofi dan karya seni menjadi sebuah tertawaan bagi yang paham nilai filosofi dan karya seni.

Teguh Twan Saat Mengerjakan Relief (1975)

Ada banyak cerita dan suka duka dibalik pembangunan Monumen Perjuangan Kemit yang dipercayakan pada beliau kala itu. Antara lain, adanya ungkapan sentimen rasialisme dari beberapa oknum dengan mengirimkan surat kaleng yang berisikan protes yang mempertanyakan perihal mengapa orang beretnis Tionghoa dipercayakan membuat relief dan monumen perjuangan? Dengan sedikit emosi namun tertahan renta, beliau menegaskan saat bercakap-cakap dengan penulis bahwa dia lahir di Kebumen dan mewarisi baik sifat etnis Tionghoa dan etnis Jawa sekaligus di dalam dirinya. Dia kerap tersudut dengan kenyataan saat dia bermasalah dengan orang Jawa, dia diejek sebagai Tionghoa sementara saat dia bermasalah dengan orang Tionghoa dia kerap diejek sebagai Jawa. Ketersudutan itulah yang membuat dia berkeputusan untuk membela eksistensi dirinya berniat melakukan teguran fisik jika ada yang menyudutkannya dengan menghubung-hubungkan dengan keetnisannya.
Teguh Twan Saat Mengerjakan Patung Pahlawan
Di Era Reformasi ini, pluralitas baik agama, suku, etnis, ras justru diberi ruang untuk dapat saling bertemu sekalipun masih saja ada kelompok-kelompok yang belum bisa menerima kenyataan dan perubahan zaman tersebut. Di Kebumen sendiri paska kejatuhan Orde Baru, aktifitas keagamaan dan kebudayaan Tionghoa semakin menunjukkan eksistensinya dan diberi ruang dalam dinamika sosial masyarakat seperti Perayaan Imlek, arak-arakan Liang Liong pada bulan-bulan tertentu, dll.
Bahkan sejarah Kebumen mencatat bahwa etnis Tionghoa telah mengalami proses peleburan dengan etnis Jawa saat K.R.T. Kolopaking III menikahi putri Cina bernama Tang Peng Nio dan makamnya sampai hari ini masih ada  di Desa Jatimulyo, Kecamatan Alian, Kebumen dan menjadi lokasi Cagar Budaya yang dilestarikan[9]. Sebuah buku tebal telah diterbitkan pada tahun 1997 dan 2006 oleh keturunan Kolopaking yaitu Tirto Wenang Kolopaking dengan judul Sejarah Silsilah Wiraseba Banyumas, Ki Ageng Mangir Kolopaking Arung Binang[10]. Dalam buku tersebut disebutkan sejumlah nama etnis Tionghoa yang masih tinggal di wilayah Kebumen dan masih trah Kolopaking dan menjalani kehidupan secara beragam, ada yang wiraswastawan, ada yang dokter dll.
Teguh Twan Dalam Usia 73 Tahun (Februari 2013)


Penulis (Teguh Hindarto) dan Pelukis (Teguh Twan)
Bapak Teguh Twan sudah semakin uzur (73 tahun). Kediaman masa tuanya memang tidak memperlihatkan ciri-ciri bahwa ini adalah sebuah rumah pelukis dan pemahat yang karya-karyanya dikunjungi orang. Namun generasi muda dan siapapun yang tinggal di Kebumen tidak bisa meninggalkan begitu saja peranan beliau sebagai pemahat relief dan monumen bersejarah.
Julukan pahlawan bukan hanya dipahami sebagai sosok pejuang yang mengangkat senjata untuk mengusir penjajah, namun pahlawan adalah siapapun yang telah berjuang baik dengan mengangkat senjata di zaman penjajahan Belanda maupun mereka yang berjuang mencerdaskan dengan ilmunya, menghiasi kota dengan karya seninya, mempengaruhi banyak orang dengan pemikirannya, memimpin sehingga membawa kemakmuran kota, dialah pahlawan kemarin dan pahlawan esok hari.
Kiranya kita bisa menghargai jasa orang-orang yang telah mendahului kita dan yang telah menumpahkan darahnya serta memberi warna terhadap masa depan kota Kebumen.


--------------- 

END NOTES
[1] Perjanjian Linggarjati
http://id.wikipedia.org/wiki/Perundingan_Linggarjati
[2] Ibid.,
[3] Agresi Militer Belanda I
http://id.wikipedia.org/wiki/Agresi_Militer_Belanda_I
[4] Ibid.,
[5] Ravie Ananda, Kisah Tragis Tujuh Patriot Kebumen Pembela NKRI Korban Kejahatan Perang Belanda dan Perusakan Situs Mexolie Panjer Kebumen Mengatasnamakan Kepentingan Pembangunan
http://kebumen2013.com/kisah-tragis-tujuh-patriot-kebumen-pembela-nkri-korban-kejahatan-perang-belanda-dan-perusakan-situs-mexolie-panjer-kebumen-mengatasnamakan-kepentingan-pembangunan/ 
[6] Ibid.,
[7] Ibid.,
[8]Dua Tahun Membuat Patung dan Relief Monumen, Suara Merdeka, 7 Oktober 2011 dan Gejala Stroke Tak Hentikan Berkarya, Suara Merdeka, 8 Oktober 2011
[9] Kisah Putri Tan Peng Nio, Menyamar Prajurit Ikut Melawan Belanda, Suara Kedu, 12 Februari 2013
[10] Tirto Wenang Kolopaking, Sejarah Silsilah Wiraseba Banyumas, Ki Ageng Mangir Kolopaking Arung Binang,Komplek Taman Buaran Indah I Blok 0  No 329, Jak-Tim

Misteri Lagu So Far Away

Misteri Dibalik Lagu 'So Far Away' - Avenged Sevenfold

Malam jum'at enaknya ngapaian ya? Daripada ngegosip gak jelas tentang cerita horror yang belum bisa dipastikan kebenarannya, gimana kalo aku ngajak kamu ngobrol tentang kematian, hal yang diakuti oleh banyak manusia. Tapi ini bukan kematian sembarangan loh. Ini kematian James Owen Sullivan. Benar kata pepatah,"Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang", yang berarti seorang manusia meskipun sudah tiada lagi, akan selalu diingat jasa-jasa atau malah kesalahan-kesalahannya.



Siapa sebenarnya James Owen Sullivan ? Sengaja aku buat postingan ini karena terinspirasi langsung dari lagu band Avenged Sevenfold, yang didedikasikan buat mantan drummer mereka yang telah meninggal tahun 2009 silam. Cobak simak kutipan lirik lagunya berikut ini:

Sleep tight I'm not afraid
The ones that we love are here with me
Lay away a place for me
'Cause as soon as I'm done I'll be on my way
To live eternally


foREVer : Sumpah, mau mewek gua denger lagu ini !



Pertama kali dengar lagu ini, sikapku biasa aja. Tetapi setelah diceritakan seorang teman mengenai kisah dibalik lagu ini, langsung merinding bulu kudukku. Kemudian setelah diputar berkali-kali dan coba pahami maksud lagu ini, aku malah dibuat hampir nangis. Video klipnya yang diunggah bulan mei tahun 2011 lalu di youtube juga sudah menyedot 24,5 juta pasang mata. Itu belum termasuk video-video sejenis yang diupload oleh user lain.

Lalu, bagaimana lagu yang menceritakan tentang kematian seorang sahabat, dapat menghipnotis begitu banyak orang untuk mendengarnya ? Apakah ada pesan mistis dari lagu itu ? Biar anda nggak semakin penasaran, langsung aja dengerin lagunya berikut ini :

* Supaya lebih hikmat, maknai liriknya bait per bait dan coba rasakan apa yang meraka rasakan...



So Far Away : Tribute to The REV



Lagu ini dalam banget liriknya, mungkin karena diangkat dari real story kali ya, emosinya dapet, melodinya juga mampu imbangi kesakaralan liriknya. Walau aku baru denger lagu ini beberapa bulan terakhir (hihihi telat banget ya?), tapi nggak ada bosen-bosenya tuh dengerin. Beda banget dengan lagu-lagu boyband maho (Ups..!) yang booming akhir-akhir ini dan(menurutku loh..) hanya jual tampang, yang terkadang bawakan lagu-lagu cengeng, gak jelas asal muasalanya (bikin nek diperut aja xp ).

Lanjut dengan kisah dibalik lagu ini.Tapi seelumnya aku berpesan, ambil hikmahnya aja ya. Buang jauh hal-hal buruk dibalik kisah lagu ini.

Penulis lagu ini adalah Synyster Gates, gitaris Avenged Sevenfold. Selama karirnya lagu inilah yang pertama kali ia ciptakan. Lagu ini awalnya dibuat untuk mendedikasikan kakeknya yang meninggal saat bandnya mengadakan tour. Namun, karena dirasa cocok, maka saat peluncuran lagu ini dijadikan tribute untuk sahabatnya sedari kecil yang juga rekan sebandnya James Owen Sullivan atau lebih dikenal dengan The Rev.




Alm. James The REV Sullivan


The Rev atau James Owen Sullivan lahir pada 10 Febuari 1981 dan merupakan salah satu personel Avenged Sevenfold paling tua di band itu. The Rev sendiri adalah kependekan dari The Reverend Tholomew Plague yang merupakan nama yang ia pilih sebagai nama panggungnnya. Bakatnya sebagai drummer sudah terlihat sejak ia kecil. Dimana dia telah memperoleh sepasang tongkat drum sejak usianya lima tahun. Keudian dia menerima drum miliknya sendiri pada usia sepuluh tahun. Pada tahun 2009, dalam jajak pendapat dari beberapa drumer terbesar di dunia yang dilakukan oleh Majalah Rhythm, The Rev mendapat tempat sebgai drumer ke 41 terbesar sepanjang masa. Selain itu dia juga termasuk pemain Drum terhebat di dunia yg berada di urutan ke-9.

Ditengah prestasinya yang mulai gemilang, pada tanggal 28 Desember 2009 terdengar kabar mengejutkan bagi para penggemar Avenged Sevenfold. The Rev dikarbarkan meninggal, dan semua tidak menyangka dengan kematian mudanya yang dirasa terlalu cepat. The Rev Sullivan ditemukan tewas di rumahnya pada usia 28 tahun. Saat itu kemtiannya masih menjadi misteri. Butuh waktu sekitar setengah tahun untuk memperoleh hasil otopsi. Baru pada tanggal 9 Juni di tahun berikutnya diumumkan bahwa penyebab kematiannya adalah keracunan akibat penggunaan piskotropika yang dicampur - campur, atau sering juga disebut polydrug use atau "cross fading".

Dalam peperikasaan yang dilakukan pada jenazah The Rev ditemukan beberapa zat yang berbahaya seperti Oxycodone, Oxymorphone, Diazepam / Nordiazepam dan etanol. Oxycodone sendiri adalah penghilang rasa sakit yang biasanya digunakan sebagai pengganti kodein. Sedangkan oxymorphone adalah obat penghilang rasa sakit mirip dengan morfin. Kemudian Diazepam / Nordiazepam adalah obat kecemasan dan etanol adalah minuman keras dalam alkohol. Dalam penyelidikan juga ditemukan bahwa organ hati The Rev juga mengalami pembesaran yang tidak wajar.

Kepergian drummer legendaris ini memukul telak personil Avenged Sevenfold lainnya. Bahkan diawal-awal kematiannya, band ini sempat diisukan bubar. Namun isu itu segera ditepis oleh Avenged Sevenfold dengan masuk dapur studio pada tanggal 17 Februari 2010 bersama dengan mantan drummer Dream Theater, Mike Portnoy, yang juga adalah salah satu drummer idola The Rev.

Walau posisinya dalam  Avenged Sevenfold saat itu telah digantikan oleh  Mike Portnoy, namun tidak serta merta membuat para personil lainnya melupakan kenangan indah bersama The REV. Terbukti dari video klip  yang telah anda tonton sebelumnya,  ekspresi para personil sangat terpukul dengan kepergian the REV, dan posisinya secara harfiah tidak akan tergantikan dalam band  Avenged Sevenfold . Bahkan jika anda teliti dengan video yang dibuat tahun 2011 lalu, beberapa personil rela menato tubuhnya dan menggunaka simbol-simbol untuk mengenang the REV.

Coba anda perhatikan, foto-foto ini saya ambil dari potongan video klipnya :

1. Tato di tangan vokalisnya, simbol tengkorak Avenged Sevenfold dengan gaya rambut THE REV.




* sekedar info, simbol Avenged Sevenfold adalah tengkorak botak bersayap.

2. Tato di leher, dengan tulisan "forever"





3. Tulisan di gitar




4. Tulisan di tali selempang bas



*kata 'REV', sengaja dibuat besar dalam kata forever

Bagaimana? sekarang anda sudah tambah yakin kan, tentang video klip lagu ini yang didedikasikan buat sahabat mereka alm. James The REV Sullivan. Begitulah dedikasi yang pantas buat seorang "Sahabat" yang dengan senang hati selalu menemani kita dalam suka maupun duka. Beda dengan (kebayakan) seorang kekasih yang mungkin saja akan dilupakan, saat tak berada di sisinya lagi. Tetapi tidak halnya dengan seorang sahabat yang namanya selalu abadi, sekali pun sudah pergi jauh...

* Terlepas dari kebiasan buruk THE REV yang justru menjemput ajalnya, angkat topi deh, buat kesetiaan para personil Avenged Sevenfold !

Ini liriknya :

Never feared for anything
Never shamed but never free
A life that healed a broken heart with all that it could

Lived a life so endlessly
Saw beyond what others see
I tried to heal your broken heart with all that I could

Will you stay ?
Will you stay away forever ?

How do I live without the ones I love ?
Time still turns the pages of the book its burned
Place and time always on my mind
I have so much to say but you’re so far away

Plans of what our futures hold
Foolish lies of growing old
It seems we’re so invincible
The truth is so cold

A final song, a last request
A perfect chapter laid to rest
Now and then I try to find a place in my mind

Where you can stay
You can stay awake forever

How do I live without the ones I love ?
Time still turns the pages of the book its burned
Place and time always on my mind
I have so much to say but you’re so far away

Sleep tight, I'm not afraid
The ones that we love are here with me
Lay away a place for me
Cause as soon as I'm done I'll be on my way
To live eternally

How do I live without the ones I love ?
Time still turns the pages of the book its burned
Place and time always on my mind
And the light you left remains but it's so hard to stay
When I have so much to say and you’re so far away

I love you
You were ready
The pain is strong enough despite
But I'll see you
When He lets me
Your pain is gone, your hands are tied

So far away
And I need you to know
So far away
And I need you to
Need you to know



Sumber. http://asatrio.blogspot.com

Benteng Van Der Wijck Gombong

Sejarah benteng merah Belanda (Benteng Van Der Wijck Gombong)





Quote:Pada masa kolonial Belanda, konon ada sebuah benteng sekilas mirip stadion sepak bola yg tepatnya di Kota Gombong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, kira-kira 300 m dari jalan raya Kebumen – Yogyakarta

Bentuk dan Luas Benteng
Quote:Ciri paling khas Benteng Van Der Wijck adalah segi delapan/oktagonal dengan luas mencapai 7.168 meter persegi. Tinggi benteng mencapai 10 meter yang terdiri dari dua lantai. Tebal dinding 1,4 meter (m) dan tebal lantai 1,1 m. Hampir seluruh bangunan bentuknya adalah tembok, termasuk atapnya yang berasal dari batu bata, Di lantai satu dan dua terdapat masing-masing 16 ruangan besar dengan ukuran 18 x 6,5 m. Sementara ruang kecil di lantai satu berbagai macam ukuran ada 27 ruangan, sementara di lantai dua terdapat 25 ruangan. Pada lantai satu terdapat empat pintu gerbang, 72 jendela, 63 pintu antar ruangan maupun pintu keluar benteng, 8 anak tangga ke lantai dua serta dua anak tangga darurat. Sedangkan di lantai dua, terdapat 84 jendela, 70 pintu penghubung dan empat anak tangga ke bagian atap.

Sejarah Benteng

Quote:Benteng ini adalah benteng pertahanan Hindia-Belanda yang dibangun sekitar abad ke 18, Nama Van Der Wijck sendiri berasal dari nama komandan pada saat itu yang karirnya cukup cemerlang dalam membungkam perlawanan rakyat Aceh. Pada awal didirikan, benteng ini diberi nama Fort Cochius (Benteng Cochius) dari nama salah seorang Jenderal Belanda Frans David Cochius (1787-1876) yang pernah ditugaskan di daerah Bagelen (salah wilayah karesidenan Kedu), Van der Wijck merupakan perwira militer dengan karir cemerlang karena konon mampu memenangkan berbagai peperangan di Indonesia. Tidak ada catatan pasti dalam sejarah kapan dimulainya pembangunan benteng tersebut, namun ada yang memperkirakan tahun 1827.
Benteng Van der Wicjk adalah barak militer yang awalnya digunakan untuk meredam kekuatan pasukan Pangeran Diponegoro. Karena kehebatan beliau yang juga didukung pemimpin-pemimpin lokal di selatan Jawa, Belanda menerapkan taktik benteng stelsel yaitu pembangunan benteng di lokasi yang sudah dikuasainya. Tujuannya jelas, untuk memperkuat pertahanan sekaligus mempersempit ruang gerak musuh, terutama di karesidenan Kedu Selatan. Benteng ini didirikan atas prakarsa Jenderal Van den Bosch.

Pada saat terjadinya peperangan Pangeran Diponegoro sekitar 1825-1830, Benteng Van Der Wijck digunakan sebagai tempat pertahanan. Meski demikian, ada sejumlah ahli yang yakin kalau benteng itu bukan merupakan benteng pertahanan, melainkan sebagai benteng logistik dan Puppilen School atau sekolah calon militer. Secara pasti memang tidak ada sejarah yang mencatat secara persis untuk apa saja benteng itu difungsikan.

Selepas penjajahan Belanda, Benteng Van Der Wijck pernah difungsikan untuk tempat melatih tentara Indonesia bentukan Jepang yakni PETA sebagai pasukan tambahan menghadapi Sekutu. Di zaman itulah, seluruh tulisan Belanda yang ada di benteng dicat hitam. Kemudian dimanfaatkan untuk tentara Indonesia. Bahkan, semasa KNIL, penguasa Orde Baru, Soeharto, menjadi salah satu penghuni benteng itu.

Wisata di Kebumen

Tempat Wisata Kebumen

Tempat Wisata Arung Jeram, Kebumen

Arung Jeram Padegolan
Tempat Wisata arung jeram yang bisa dimulai di Desa Sendang Dalem, Kecamatan Prembun, kawasan Waduk Lintang, Kebumen, dengan air sungai yang jernih, karakteristik sungai yang berkelok dengan batu-batu besar dan beberapa jeram yang membutuhkan ketrampilan untuk melewatinya, dengan titik akhir di Bendungan Pejengkolan.


Tempat Wisata Gua, Kebumen

Gua Jatijajar 
Tempat Wisata sekitar 42 Km dari kota Kebumen, 21 Km dari Gombong, di kaki pegunungan kapur dengan stalaktit dan stalagmit yang indah, panjangnya 250 meter yang seluruhnya diterangi dengan lampu listrik, dan dihiasi dengan rangkaian patung yang menggambarkan legenda Raden Kamandaka, serta empat buah mata air jernih. Di area ini ada Goa Intan, Goa Dempok, dan Pulau Kera.

Gua Petruk

Tempat Wisata di Dukuh Mandayana, Desa Candirenggo, Kecamatan Ayah, Kebumen, gua sekitar 6 Km dari Gua Jatijajar, dengan suara tetesan air kapur yang tak pernah henti. Di beberapa bagian pengunjung harus berjalan dengan sedikit merayap. Stalaktit di dalam Gua Petruk sangat indah, dan ada yang menyerupai tokoh Semar, bapak jenggot, anjing duduk serta, maaf, payudara wanita, yang bisa dijangkau tangan.


Tempat Wisata Pantai

Pantai Logending

Tempat Wisata di Kecamatan Ayah, Kebumen, sekitar 9 Km dari Goa Jatijajar dengan tepian pantai yang luas yang bisa dinikmati dengan menyewa perahu menyusuri pantai dan muara Sungai Bodo, serta menyaksikan keindahan suasana saat matahari tenggelam.

Pantai Karangbolong


Tempat Wisata sekitar 40 km dari Kota Kebumen, dengan pantai landai luas berpasir halus kasar berwarna kelabu. Di sisi timur terdapat Gua Karangbolong sepanjang 30 m, lebar 10 m dan tinggi 5 m yang diperkirakan berumur 15-30 juta tahun dan digunakan sebagai sarang oleh burung walet. Bisa ditempuh melalui Gombong, atau melalui Petanahan – Pantai Suwuk.

Pantai Petanahan

Tempat Wisata di Desa Karanggadung, Kecamatan Petanahan, Kebumen, sekitar 17 Km dari Kota Kebumen, dengan gelombang ombak pantai selatan yang besar dan berkejaran tanpa henti dengan debur yang keras.

Pantai Tanjung Bata dan Pantai Menganti
Tempat Wisata sekitar 7 Km dari Pantai Ayah, dengan pasir putih, karang terjal yang menyerupai batu raksasa, dan perbukitan, dicapai dengan berjalan kaki sejauh 3 Km dari lokasi parkir kendaraan.


Tempat Wisata Kelenteng, Kebumen

Kelenteng Kong Hwie Kiong

Tempat Wisata kelenteng yang berada di Jln. Pramuka No. 41, Kebumen, yang dibangun oleh para pedagang Cina Kebumen pada tahun 1898. Kelenteng ini pernah terbakar pada tahun 1947 dan dipugar kembali pada tahun 1969. Tuan rumah kelenteng Kong Hwie Kiong adalah Thian Siang Seng Boo, Dewi Penguasa Laut yang penuh dengan rasa welas asih.


Tempat Wisata Masjid, Kebumen

Masjid Saka Tunggal

Tempat Wisata masjid di Desa Pekuncen, Kecamatan Sempor, Kebumen yang diyakini merupakan masjid tertua di Kebumen. Masjid yang dibangun sekitar tahun 1719 pada masa Adipati Mangkuprojo ini lokasinya sekitar 15 kilometer dari kota Gombong.


Tempat Wisata Pemandian Air Panas

Pemandian Air Panas Krakal
Tempat Wisata di Desa Krakal, Kecamatan Alian, sekitar 11 km dari Kota Kebumen, merupakan pemandian air panas yang mengandung belerang yang bisa menyembuhka penyakit kulit jika sering pergi berendam di sana. Mata airnya berasal dari formasi batuan Penosogan Karangsambung, dengan suhu sekitar 40 derajat Celcius.


Tempat Wisata Bendungan

 Waduk Serbaguna Sempor


Tempat Wisata sekitar 32 km dari kota Kebumen, yang pemandangan di sekeliling waduknya bisa dinikmati dengan naik speedboat atau perahu tradisional.
Waduk Wada Lintang, Tempat Wisata Kebumen
Tempat Wisata bendungan di Kecamatan Wadas Lintang, sekitar 34 Km dari Kota Kebumen, yang menggunakan Kali Gede sebagai sumber air utamanya dengan beberapa anak sungai kecil lainnya. Waduk ini disukai oleh penggemar olah raga memancing.


Tempat Wisata Bangunan Tua

Benteng Van Der Wijck

Tempat Wisata benteng di kota Gombong, sekitar 21 km dari kota Kebumen, dengan luas 3607 m2 di bagian atas dan bawah, yang dibangun Belanda pada abad ke-18. Tinggi Benteng ini 10 m, cerobong 3 m, dan terdapat 16 barak